NAME :
Farida Retno Wardani
NIM : A210110128
Lecturer : Drs. Joko Suwandi, MM
SEJARAH ILMU EKONOMI
Adam Smith sering disebut sebagai yang pertama
mengembangkan ilmu ekonomi pada abad 18 sebagai satu cabang tersendiri dalam ilmu
pengetahuan. Melalui karya besarnya Wealth of Nations, Smith mencoba mencari tahu sejarah
perkembangan negara-negara di Eropa. Sebagai seorang ekonom,
Smith tidak melupakan akar moralitasnya terutama yang tertuang dalam The Theory of Moral Sentiments. Perkembangan sejarah
pemikiran ekonomi kemudian berlanjut dengan menghasilkan tokoh-tokoh seperti Alfred Marshall, J.M. Keynes, Karl Marx, hingga peraih hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2006, Edmund Phelps.
Secara garis besar,
perkembangan aliran pemikiran dalam ilmu ekonomi diawali oleh apa yang disebut
sebagai aliran klasik. Aliran yang terutama dipelopori oleh Adam Smith ini
menekankan adanya invisible hand dalam mengatur pembagian sumber daya, dan oleh
karenanya peran pemerintah menjadi sangat dibatasi
karena akan mengganggu proses ini. Konsep invisble hand ini kemudian
direpresentasikan sebagai mekanisme pasar melalui harga sebagai instrumen
utamanya.
Aliran klasik mengalami
kegagalannya setelah terjadi Depresi Besar tahun 1930-an yang menunjukkan bahwa
pasar tidak mampu bereaksi terhadap gejolak di pasar saham. Sebagai penanding
aliran klasik, Keynes mengajukan teori dalam
bukunya General Theory of Employment, Interest, and Money yang menyatakan bahwa
pasar tidak selalu mampu menciptakan keseimbangan, dan karena itu intervensi
pemerintah harus dilakukan agar distribusi sumber daya mencapai sasarannya. Dua
aliran ini kemudian saling "bertarung" dalam dunia ilmu ekonomi dan
menghasilkan banyak varian dari keduanya seperti: new classical, neo
klasik,
new keynesian, monetarist, dan lain sebagainya.
Namun perkembangan dalam
pemikiran ini juga berkembang ke arah lain, seperti teori pertentangan kelas
dari Karl Marx dan Friedrich Engels, serta aliran institusional yang pertama dikembangkan
oleh Thorstein
Veblen
dkk dan kemudian oleh peraih nobel Douglass C. North.
Suatu pemikiran kapitalisme
yang terlebih dahulu yang harus dilacak melalui sejarah perkembangan pemikiran ekonomi dari
era Yunani kuno
sampai era sekarang. Aristoteles adalah yang pertama kali memikirkan tentang transaksi
ekonomi dan membedakan di antaranya antara yang bersifat "natural"
atau "unnatural". Transaksi natural terkait dengan pemuasan kebutuhan
dan pengumpulan kekayaan yang terbatasi jumlahnya oleh tujuan yang
dikehendakinya. Transaksi un-natural bertujuan pada pengumpulan kekayaan yang
secara potensial tak terbatas. Dia menjelaskan bahwa kekayaan unnatural tak
berbatas karena dia menjadi akhir dari dirinya sendiri ketimbang sebagai sarana
menuju akhir yang lain yaitu pemenuhan kebutuhan. Contoh dati transaksi ini
disebutkan adalah perdagangan moneter dan retail yang dia ejek sebagai
"unnatural" dan bahkan tidak bermoral. Pandangannya ini kelak akan
banyak dipuji oleh para penulis Kristen di Abad
Pertengahan.
Aristotles juga membela kepemilikan pribadi yang
menurutnya akan dapat memberi peluang seseorang untuk melakukan kebajikan dan
memberikan derma dan cinta sesama yang merupakan bagian dari “jalan emas” dan
“kehidupan yang baik ala Aristotles.
Chanakya (c. 350-275 BC) adalah tokoh berikutnya. Dia
sering mendapat julukan sebagai Indian Machiavelli.
Dia adalah professor ilmu politik pada Takshashila University dari India kuno
dan kemudian menjadi Prime Minister dari kerajaan Mauryan yang dipimpin oleh
Chandragupta Maurya. Dia menulis karya yang berjudul Arthashastra (Ilmu
mendapatkan materi) yang dapat dianggap sebagai pendahulu dari Machiavelli's
The Prince. Banyak masalah yang dibahas dalam karya itu masih relevan sampai
sekarang, termasuk diskusi tentang bagaiamana konsep manajemen yang efisien dan
solid, dan juga masalah etika di bidang ekonomi. Chanakya juga berfokus pada
isu kesejahteraan seperti redistribusi kekayaan pada kaum papa dan etika
kolektif yang dapat mengikat kebersamaan masyarakat.
Tokoh pemikir Islam juga memberikan sumbangsih pada
pemahaman di bidang ekonomi. ibn Khaldun dari Tunis (1332–1406) menulis masalah
teori ekonomi dan politik dalam karyanya Prolegomena, menunjukkan bagaimana
kepadatan populasi adalah terkait dengan pembagian tenaga kerja yang dapat
memacu pertumbuhan ekonomi yang sebaliknya mengakibatkan pada penambahan
populasi dalam sebuah lingkaran. Dia juga memperkenalkan konsep yang biasa
disebut dengan Khaldun-Laffer Curve (keterkaitan antara tingkat pajak dan
pendapatan pajak dalam kurva berbentuk huruf U).
Perintis pemikiran barat di bidang ekonomi terkait dengan
debat scholastic theological selama Middle Ages. Masalah yang penting adalah
tentang penentuan harga barang. Penganut Katolik dan Protestan
terlibat dalam perdebatan tentang apa itu yang disebut “harga yang adil” di
dalam ekonomi pasar. Kaum skolastik Spanyol di abad
16 mengatakan bahwa harga yang adil tak lain adalah harga pasar umum dan mereka
umumnya mendukung filsafat laissez faire.
Selanjutnya pada era Reformation pada 16th century, ide
tentang perdagangan bebas muncul yang kemudian diadopsi secara hukum oleh Hugo
de Groot atau Grotius. Kebijakan ekonomi di Europe selama akhir Middle Ages dan
awal Renaissance adalah memberlakukan aktivitas ekonomi sebagai barang yang
ditarik pajak untuk para bangsawan dan gereja. Pertukaran ekonomi diatur dengan
hukum feudal seperti hak untuk mengumpulkan pajak jalan begitu juga pengaturan
asosiasi pekerja (guild) dan pengaturan religious dalam masalah penyewaan.
Kebijakan ekonomi seperti itu didesain untuk mendorong perdagangan pada wilayah
tertentu. Karena pentingnya kedudukan sosial, aturan-aturan terkait kemewahan
dijalankan, pengaturan pakaian dan perumahan meliputi gaya yang diperbolehkan,
material yang digunakan dan frekuensi pembelian bagi masing-masing kelas yang
berbeda.
Niccolò Machiavelli dalam karyanya The Prince adalah
penulis pertama yang menyusun teori kebijakan ekonomi dalam bentuk nasihat. Dia
melakukannya dengan menyatakan bahwa para bangsawan dan republik harus
membatasi pengeluarannya, dan mencegah penjarahan oleh kaum yang punya maupun
oleh kaum kebanyakan. Dengan cara itu maka negara akan dilihat sebagai “murah
hati” karena tidak menjadi beban berat bagi warganya. Selama masa Early Modern
period, mercantilists hampir dapat merumuskan suatu teori ekonomi tersendiri.
Perbedaan ini tercermin dari munculnya negara bangsa di kawasan Eropa Barat
yang menekankan pada balance of payments.
Tahap ini kerapkali disebut sebagai tahap paling awal
dari perkembangan modern capitalism yang berlangsung pada periode antara abad
16th dan 18th, kerap disebut sebagai merchant capitalism dan mercantilism.
Babakan ini terkait dengan geographic discoveries oleh merchant overseas
traders, terutama dari England dan Low Countries; European colonization of the
Americas; dan pertumbuhan yang cepat dari perdagangan luar negeri. Hal ini
memunculkan kelas bourgeoisie dan menenggelamkan feudal system yang sebelumnya.
Merkantilisme
adalah sebuah sistem perdagangan untuk profit, meskipun produksi masih
dikerjakan dengan non-capitalist production methods. Karl Polanyi berpendapat
bahwa capitalism belum muncul sampai berdirinya free trade di Britain pada
1830s.
Di bawah merkantilisme, European merchants, diperkuat
oleh sistem kontrol dari negara, subsidies, and monopolies, menghasilkan
kebanyakan profits dari jual-beli bermacam barang. Dibawah mercantilism, guilds
adalah pengatur utama dari ekonomi. Dalam kalimat Francis Bacon, tujuan dari
mercantilism adalah :
"the opening and well-balancing of trade; the
cherishing of manufacturers; the banishing of idleness; the repressing of waste
and excess by sumptuary laws; the improvement and husbanding of the soil; the
regulation of prices…"
Di antara berbagai mercantilist theory salah satunya
adalah bullionism, doktrin yang menekankan pada pentingnya akumulasi precious
metals. Mercantilists berpendapat bahwa negara seharusnya mengekspor barang
lebih banyak dibandingkan jumlah yang diimport sehingga luar negeri akan
membayar selisihnya dalam bentuk precious metals. Mercantilists juga
berpendapat bahwa bahan mentah yang tidak dapat ditambang dari dalam negeri
maka harus diimport, dan mempromosikan subsidi, seperti penjaminan monopoli
protective tariffs, untuk meningkatkan produksi dalam negeri dari manufactured
goods.
Para perintis mercantilism menekankan pentingnya kekuatan
negara dan penaklukan luar negeri sebagai kebijakan utama dari economic policy.
Jika sebuah negara tidak mempunyai supply dari bahan mentahnnya maka mereka
harus mendapatkan koloni darimana mereka dapat mengambil bahan mentah yang
dibutuhkan. Koloni berperan bukan hanya sebagai penyedia bahan mentah tapi juga
sebagai pasar bagi barang jadi. Agar tidak terjadi suatu kompetisi maka koloni
harus dicegah untuk melaksanakan produksi dan berdagang dengan pihak asing
lainnya.
Selama the Enlightenment, physiocrats Perancis adalah
yang pertama kali memahami ekonomi berdiri sendiri. Salah satu tokoh yang
terpenting adalah Francois Quesnay. Diagram ciptaannya yang terkenal, tableau
economique, oleh kawan-kawannya dianggap sebagai salah satu temuan ekonomi
terbesar setelah tulisan dan uang. Diagram zig-zag ini dipuji sebagai rintisan
awal bagi pengembangan banyak tabel dalam ekonomi modern, ekonometrik,
multiplier Keynes, analisis input-output, diagram aliran sirkular dan model
keseimbangan umum Walras.
Tokoh lain dalam periode ini adalah Richard Cantillon,
Jaques Turgot, dan Etienne Bonnot de Condillac. Richard
Cantillon (1680-1734)
oleh beberapa sejarawan ekonomi dianggap sebagai bapak ekonomi yang sebenarnya.
Bukunya Essay on the Naturof Commerce ini General (1755, terbit setelah dia
wafat) menekankan pada mekanisme otomatis dalam pasar yakni penawaran dan
permintaan, peran vital dari kewirausahaan, dan analisis inflasi moneter
“pra-Austrian” yang canggih yakni tentang bagaimana inflasi bukan hanya
menaikkan harga tetapi juga mengubah pola pengeluaran.
Jaques Turgot (1727-81) adalah pendukung laissez
faire, pernah menjadi menteri keuangan dalam pemerintahan Louis XVI dan
membubarkan serikat kerja (guild), menghapus semua larangan perdagangan gandum
dan mempertahankan anggaran berimbang. Dia terkenal dekat dengan raja meskipun
akhirnya dipecat pada 1776. Karyanya Reflection on the Formation and
Distribution of Wealth menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang
perekonomian. Sebagai seorang physiocrats, Turgot membela pertanian sebagai
sektor paling produktif dalam ekonomi. Karyanya yang terang ini memberikan
pemahaman yang baik tentang preferensi waktu, kapital dan suku bunga, dan peran
enterpreneur-kapitalis dalam ekonomi kompetetitif.
Etienne Bonnot de Condillac (1714-80) adalah orang yang
membela Turgot di saat-saat sulit tahun 1775 ketika dia menghadapi kerusuhan
pangan saat menjabat sebagai menteri keuangan. Codillac juga merupakan seorang
pendukung perdagangan bebas. Karyanya Commerce and Government (terbit sebulan
sebelum The Wealth of Nation, 1776) mencakup gagasan ekonomi yang sangat maju.
Dia mengakui manufaktur sebagai sektor produktif, perdagangan sebagai
representasi nilai yang tak seimbang dimana kedua belah pihak bisa mendapat
keuntungan, dan mengakui bahwa harga ditentukan oelh nilai guna, bukan nilai
kerja.
Tokoh lainnya, Anders Chydenius (1729–1803) menulis buku The National
Gain pada 1765 yang menerangkan ide tentang kemerdekaan dalam perdagangan dan
industri dan menyelidiki hubungan antara ekonomi dan masyarakat dan meletakkan
dasar liberalism, sebelas tahun sebelum Adam Smith menulis hal yang sama namun
lebih komprehensif dalamThe Wealth of Nations. Menurut Chydenius, democracy,
kesetaraan dan penghormatan pada hak asasi manusia adalah jalan satu-satunya
untuk kemajuan dan kebahagiaan bagi seluruh anggota masyarakat.
Mercantilism mulai menurun di Great Britain pada
pertengahan 18th, ketika sekelompok economic theorists, dipimpin oleh Adam
Smith, menantang dasar-dasar mercantilist doctrines yang berkeyakinan bahwa
jumlah keseluruhan dari kekayaan dunia ini adalah tetap sehingga suatu negara
hanya dapat meningkatkan kekayaannya dari pengeluaran negara lainnya. Meskipun
begitu, di negara-negara yang baru berkembang seperti Prussia dan Russia,
dengan pertumbuhan manufacturing yang masih baru, mercantilism masih berlanjut
sebagai paham utama meskipun negara-negara lain sudah beralih ke paham yang
lebih baru.
Pemikiran ekonomi modern biasanya dinyatakan dimulai dari
terbitnya Adam Smith's The Wealth of Nations, pada 1776, walaupun pemikir
lainnya yang lebih dulu juga memberikan kontribusi yang tidak sedikit. Ide
utama yang diajukan oleh Smith adalah kompetisi antara berbagai penyedia barang
dan pembeli akan menghasilkan kemungkinan terbaik dalam distribusi barang dan
jasa karena hal itu akan mendorong setiap orang untuk melakukan spesialisasi
dan peningkatan modalnya sehingga akan menghasilkan nilai lebih dengan tenaga
kerja yang tetap. Smith's thesis berkeyakinan bahwa sebuah sistem besar akan
mengatur dirinya sendiri dengan menjalankan aktivits-aktivitas masing-masing
bagiannya sendiri-sendiri tanpa harus mendapatkan arahan tertentu. Hal ini yang
biasa disebut sebagai "invisible hand" dan masih menjadi pusat
gagasan dari ekonomi pasar dan capitalism itu sendiri.
Smith adalah salah satu tokoh dalam era Classical
Economics dengan kontributor utama John Stuart Mill
and David Ricardo. John Stuart Mill, pada awal hingga
pertengahan abad 19th, berfokus pada "wealth" yang didefinisikannya
secara khusus dalam kaitannya dengan nilai tukar obyek atau yang sekarang
disebut dengan price.
Pertengahan abad 18th menunjukkan peningkatan pada
industrial capitalism, memberi kemungkinan bagi akumulasi modal yang luas di
bawah fase perdagangan dan investasi pada mesin-mesin produksi. Industrial
capitalism, yang dicatat oleh Marx mulai dari pertigaan akhir abad 18th,
menandai perkembangan dari the factory system of manufacturing, dengan ciri
utama complex division of labor dan routinization of work tasks; dan akhirnya
memantapkan dominasi global dari capitalist mode of production.
Hasil dari proses tersebut adalah Industrial Revolution,
dimana industrialist menggantikan posisi penting dari merchant dalam capitalist
system dan mengakibatkan penurunan traditional handicraft skills dari artisans, guilds, dan
journeymen. Juga selam masa ini, capitalism menandai perubahan hubungan antara
British landowning gentry dan peasants, meningkatkan produksi dari cash crops
untuk pasar lebih daripada yang digunakan untuk feudal manor. Surplus ini
dihasilkan dengan peningkatan commercial agriculture sehingga mendorong
peningkatan mechanization of agriculture.
Peningakatan industrial capitalism juga terkait dengan
penurunan mercantilism. Pertengahan hingga akhir abad sembilan belas Britain
dianggap sebagai contoh klasik dari laissez-faire capitalism. Laissez-faire
mendapatkan momentum oleh mercantilism di Britain pada 1840s dengan persetujuan
Corn Laws dan Navigation Acts. Sejalan dengan ajaran classical political
economists, dipimpin oleh Adam Smith dan David Ricardo, Britain memunculkan
liberalism, mendorong kompetisi dan perkembangan market economy.
Pada abad 19th, Karl Marx
menggabungkan berbagai aliran pemikiran meliputi distribusi sosial dari sumber
daya, mencakup karya Adam Smith, juga pemikiran socialism dan egalitarianism,
dengan menggunakan pendekatan sistematis pada logika yang diambil dari Georg Wilhelm Friedrich Hegel untuk menghasilkan Das Kapital.
Ajarannya banyak dianut oleh mereka yang mengkritik ekonomi pasar selama abad
19th dan 20th. Ekonomi Marxist berlandaskan pada labor theory of value yang
dasarnya ditanamkan oleh classical economists (termasuk Adam Smith) dan
kemudian dikembangkan oleh Marx. Pemikiran Marxist beranggapan bahwa capitalism
adalah berlandaskan pada exploitation kelas pekerja: pendapatan yang diterima
mereka selalu lebih rendah dari nilai pekerjaan yang dihasilkannya, dan selisih
itu diambil oleh capitalist dalam bentuk profit.
Pada akhir abad 19th, kontrol dan arah dari industri skala
besar berada di tangan financiers. Masa ini biasa disebut sebagai "finance
capitalism," dicirikan dengan subordination proses produksi ke dalam
accumulation of money profits dalam financial system. Penampakan utama
capitalism pada masa ini mencakup establishment of huge industrial cartels atau
monopolies; kepemilikan dan management dari industry oleh financiers berpisah
dari production process; dan pertumbuhan dari complex system banking, sebuah
equity market, dan corporate memegang capital melalui kepemilikan stock. Tampak
meningkat juga industri besar dan tanah menjadi subject of profit dan loss oleh
financial speculators. Akhir abad 19th juga muncul "marginal
revolution" yang meningkatkan dasar pemahaman ekonomi mencakup
konsep-konsep seperti marginalism dan opportunity cost. Lebih lanjut, Carl
Menger menyebarkan gagasan tentang kerangka kerja ekonomi sebagai opportunity
cost dari keputusan yang dibuat pada margins of economic activity.
Akhir 19th dan awal 20th capitalism juga disebutkan
segagai era "monopoly capitalism," ditandai oleh pergerakan dari
laissez-faire phase of capitalism menjadi the concentration of capital hingga
mencapai large monopolistic atau oligopolistic holdings oleh banks and
financiers, dan dicirikan oleh pertumbuhan corporations dan pembagian labor
terpisah dari shareholders, owners, dan managers.
Perkembangan selanjutnya ekonomi menjadi lebih bersifat
statistical, dan studi tentang econometrics menjadi penting. Statistik
memperlakukan price, unemployment, money supply dan variabel lainnya serta
perbandingan antar variabel-variabel ini, menjadi sentral dari penulisan
ekonomi dan menjadi bahan diskusi utama dalam lapangan ekonomi. Pada quarter
terakhir abad 19th, kemunculan dari large industrial trusts mendorong
legislation di U.S. untuk mengurangi monopolistic tendencies dari masa ini.
Secara berangsur-angsur, U.S. federal government memainkan peranan yang lebih
besar dalam menghasilkan antitrust laws dan regulation of industrial standards
untuk key industries of special public concern. Pada akhir abad 19th, economic
depressions dan boom and bust business cycles menjadi masalah yang tak
terselesaikan. Long Depression dari 1870s dan 1880s dan Great Depression dari
1930s berakibat pada nyaris keseluruhan capitalist world, dan menghasilkan
pembahasan tentang prospek jangka panjang capitalism. Selama masa 1930s,
Marxist commentators seringkali meyakinkan kemungkinan penurunan atau kegagalan
capitalism, dengan merujuk pada kemampuan Soviet Union untuk menghindari akibat
dari global depression.
Macroeconomics mulai dipisahkan dari microeconomics oleh
John Maynard Keynes pada 1920s, dan menjadi kesepakatan bersama pada 1930s oleh
Keynes dan lainnya, terutama John Hicks. Mereka mendapat ketenaran karena
gagasannya dalam mengatasi Great Depression. Keynes adalah tokoh penting dalam
gagasan pentingnya keberadaaan central banking dan campur tangan pemerintah
dalam hubungan ekonomi. Karyanya "General Theory of Employment, Interest
and Money" menyampaikan kritik terhadap ekonomi klasik dan juga mengusulkan
metode untuk management of aggregate demand. Pada masa sesudah global
depression pada 1930s, negara memainkan peranan yang penting pada capitalistic
system di hampir sebagian besar kawasan dunia. Pada 1929, sebagai contoh, total
pengeluaran U.S. government (federal, state, and local) berjumlah kurang dari
sepersepuluh dari GNP; pada 1970s mereka berjumlah mencapai sepertiga.
Peningkatan yang sama tampak pada industrialized capitalist economies, sepreti
France misalnya, telah mencapai ratios of government expenditures dari GNP yang
lebih tinggi dibandingkan United States. Sistem economies ini seringkali
disebut dengan "mixed economies."
Selama periode postwar boom, penampakan yang luasa dari
new analytical tools dalam social sciences dikembangkan untuk menjelaskan
social dan economic trends dari masa ini, mencakup konsep post-industrial
society dan welfare statism. Phase dari capitalism sejak awal masa postwar
hingga 1970s memiliki sesuatu yang kerap disebut sebagai “state capitalism”,
terutama oleh Marxian thinkers.
Banyak economists menggunakan kombinasi dari Neoclassical
microeconomics dan Keynesian macroeconomics. Kombinasi ini, yang sering disebut
sebagai Neoclassical synthesis, dominan pada pengajaran dan kebijakan publik
pada masa sesudah World War II hingga akhir 1970s. pemikiran neoclassical
mendapat bantahan dari monetarism, dibentuk pada akhir 1940s dan awal 1950s
oleh Milton Friedman yang dikaitkan dengan University of
Chicago dan juga supply-side economics.
Pada akhir abad 20th terdapat pergeseran wilayah kajian
dari yang semula berbasis price menjadi berbasis risk, keberadaan pelaku
ekonomi yang tidak sempurna dan perlakuan terhadap ekonomi seperti biological science,
lebih menyerupai norma evolutionary dibandingkan pertukaran yang abstract.
Pemahaman akan risk menjadi signifikan dipandang sebagai variasi price over
time yang ternyata lebih penting dibanding actual price. Hal ini berlaku pada
financial economics dimana risk-return tradeoffs menjadi keputusan penting yang
harus dibuat.
Masa postwar boom yang lama berakhir pada 1970s dengan
adanya economic crises experienced mengikuti 1973 oil crisis. “stagflation”
dari 1970s mendorong banyak economic commentators politicians untuk memunculkan
neoliberal policy diilhami oleh laissez-faire capitalism dan classical
liberalism dari abad 19th, terutama dalam pengaruh Friedrich Hayek dan Milton
Friedman. Terutama, monetarism, sebuah theoretical alternative dari Keynesianism
yang lebih compatible dengan laissez-faire, mendapat dukungan yang meningkat
increasing dalam capitalist world, terutama dibawah kepemimpinan Ronald Reagan
di U.S. dan Margaret Thatcher di UK pada 1980s.
Area perkembangan yang paling pesat kemudian adalah studi
tentang informasi dan keputusan. Contoh pemikiran ini seperti yang dikemukakan
oleh Joseph Stiglitz. Masalah-masalah ketidakseimbangan
informasi dan kejahatan moral dibahas disini seperti karena memengaruhi modern
economic dan menghasilkan dilema-dilema seperti executive stock options,
insurance markets, dan Third-World debt relief.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Nb : blog ini dipublikasikan semata- mata hanya sebagai sarana pembelajaran dalam mata kuliah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar